Makalah Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial Dalam Kehidupan Masyarakat Pedesaan

E-book CPNS2013

ANALISIS DIFERENSIASI DAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PEDESAAN

KELOMPOK 5

Eka Ariwijayanti I34070026

Nyimas Nadya Izana I34070027

Titania Aulia I34070052

Dewi Silvialestari I34070078

Syifa Maharani I34070082

Agusty Dwitya Putri I34070092

Yuvita Amalia I34070108

Karina Swedianti I34070115

Fauziah Rossy I34070118

Dewi Chalimatus S I34070129

clip_image002

DEPARTEMEN

SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sosiologi mempelajari hubungan-hubungan kelompok orang (Sajogyo 1971:3), ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan di dalam dan antara kelompok masyarakat, sedangkan “kelompok masyarakat” digambarkan sebagai sejumlah orang yang saling “berhubungan” menurut corak-corak tertentu (Sajogyo 1971:2). Sementara sosiologi pedesaan yang dinyatakan oleh Sajogyo sebagai lapangan khas dari sosiologi umum yang berspesialisasi pada peneropongan masyarakat pedesaan.

Sosiologi pedesaan mempelajari kehidupan sosial organisasi/kelompok beserta perubahan-perubahannya sebagai konsekuensi dari adanya proses sosial. Objek studi sosiologi pedesaan adalah seluruh penduduk di pedesaan yang terus menerus atau sementara tinggal di desa. Desa merupakan tempat sekelompok kecil orang atau masyarakat yang mendiami suatau tempat. Desa mempunyai suatu sistem tersendiri baik dari segi pemerintahan maupun dari sistem kebudayaan. Desa sebagai suatu sistem adalah suatu kesatuan yang utuh, terbentuk secara berkesinambungan dalam waktu yang lama.

Di dalam suatu desa terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya diferensiasi. Diferensiasi (perbedaan) sosial mengasumsikan bahwa dalam masyarakat terdapat sejumlah kedudukan dan peranan yang diberi penilaian berbeda-beda. Konsep diferensiasi sosial lebih menekankan pada adanya sejumlah kedudukan dan peranan yang berbeda dalam masyarakat yang memberikan kemampuan mengakses sumberdaya (kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dll) secara berbeda-beda. Perbedaan mengakses sumberdaya inilah yang akan membentuk sistem stratifikasi sosial yang dapat dibedakan menjadi lapisan atas dan lapisan bawah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka terdapat beberapa perumusah masalah yang akan diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Apa saja faktor-faktor yang mendasari diferensiasi dalam masyarakat?

2. Bagaimana bentuk stratifikasi sosial dalam masyarakat pedesaan?

3. Seandainya terjadi hubungan patron-klien, apakah terdapat pengaruh terhadap masyarakat pedesaan?

1. 3 Tujuan

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka proposal yang telah dibuat ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui faktor-faktor yang mendasari diferensiasi dalam masyarakat.

2. Mengetahui bentuk stratifikasi sosial dalam masyarakat pedesaan.

3. Mengetahui pengaruh hubungan patron-klien terhadap masyarakat pedesaan.

1.4 Manfaat

Kegunaan atau manfaat penulisan proposal ini dalam bidang akademik adalah memperoleh gambaran dan menambah pengetahuan tentang bagaimana pengaruh diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat pedesaan.

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Desa

Desa merupakan satu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa dan mengadakan pemerintahan sendiri. Desa terjadi bukan hanya dari satu tempat kediaman masyarakat saja, namun terjadi dari satu induk desa dan beberapa tempat kediaman. Sebagian darimana hukum yang terpisahkan yang merupakan kesatuan tempat tinggal sendiri kesatuan mana pendukuhan, ampean, kampung, cantilan, beserta tanah perikanan darat, tanah hutan dan tanah belukar (Inayatullah, 1977). Pengertian desa menurut Undang-Undang Pemerintahan Daerah No.5/1979 adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat yang berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan NKRI (bermakna desa bukan daerah yang otonom).

2.1.2 Pengertian Stratifikasi

Stratifikasi sosial adalah pembedaan atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. (Piritim A. Sorokin,1959 dalam Fernandez dkk,1995).

Secara teoritis, semua manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial tidaklah demikian. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat, dapatlah pokok-pokok sebagai berikut dijadikan pedoman :

a. Sistem lapisan mungkin berpokok pada sistem pertentangan dalam masyarakat. Sistem demikian hanya punya arti yang khusus bagi masyarakat-masyarakat tertentu yang menjadi obyek penyelidikan.

b. Sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur sebagai berikut :

1. Distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan, laju angka kejahatan), wewenang, dan sebagainya.

2. Sistem pertetanggaan yang diciptakan para warga masyarakat (prestise dan penghargaan).

3. Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.

4. Lambang-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya.

5. Mudah dan sukarnya bertukar kedudukan.

6. Solidaritas di antara individu-individu atau kelompok-kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat.

Pemaknaan terhadap struktur sosial akan sangat berkaitan dengan komunitas sebagai suatu kesatuan sistem sosial. Komunitas adalah suatu unit atau kesatuan sosial yang teriorhanisasikan dalam kelompok-kelompok dan kepentingan bersama (communities of comment interest), baik yang bersifat fungsional maupun teritorial (Soemardjan, 1962).

Struktur sosial itu menunjuk pada fakta bahwa tindakan individu-individu yang berinteraksi dipolakan dalam kaitan dengan posisi masing-masing dalam interaksi tersebut. Konsep struktur sosial yang maksudkan adalah pola-pola dalam pengorganisasian sosial, yaitu hubungan antar status atau peranan yang relatif bersifat mantap ( Charon, 1980). Menurut Soekanto (1990) struktus sosial merujuk pada pola interaksi tertentu yang relatif mantap, terdiri dari relasi-relasi sosial hierarkis dan pembagian kerja tertentu yang ditopang kaidah, peraturan dan nilai masyarakat. Struktur sosial merupakan jaringan dari unsur sosial pokok dalam masyarakat : kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifilkasi, kekuasan dan wewenang.

2.1.3 Pengertian Diferensiasi

Diferensiasi (pembedaan) sosial mengasumsikan bahwa dalam masyarakat terdapat sejumlah kedudukan dan peranan yang diberi penilaian berbeda. Sorokin (1989) menyatakan bahwa sistem pelapisan masyarakat merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur. Stratifikasi sosial terjadi dikarenakan adanya diferensiasi sosial dan ketidaksamaan sosial (social inequality).

2.1.4 Dasar pelapisan sosial

Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat kedalam satu lapisan. (Calhoun dalam Soekanto, 1990) adalah sebagai berikut:

1. Ukuran kekayaan, barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisanm teratas. Kekayaan tersebut misalnya: mobil, rumah, tanah, dan sebagainya.

2. Ukuran kekuasaan, barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan atas.

3. Ukuran kehormatan, orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.

4. Ukuran ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

2.1.5 Kondisi Yang Mendorong Terciptanya Stratifikasi

Beberapa kondisi yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarakat menurut Fernandes dkk (1997), yaitu:

1. Perbedaan ras dan budaya. Ketidaksamaan ciri biologis seperti warna kulit, latar belakang etnis, dan budaya telah mengarah pada stratifikasi sosial masyarakat, dibawah penguasaan kelompok yang satu terhadap kelompok yang lain.

2. Pembagian tugas. Pemabagian tugas yang bersifat spesialisasi dalam posisi-posisi dengan perbedaan fungsi stratifikasi sosial.

3. Kelangkaan. Alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka.

2.1.6 Sifat Sistem Pelapisan Masyarakat

Sifat sistem pelapisan didalam suatu masyarakat menurut Soekanto (1990) dapat bersifat tertutup (close social stratification) dan terbuka (open social stratification). Sistem tertutup membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dalam suatu lapisan ke lapisan yang lain, baik yang merupakan gerak ke atas maupun ke bawah. Didalam sistem yang demikian, satu-satunya jalan untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran (mobilitas yang demikian sangat terbatas atau bahkan mungkin tidak ada). Contoh masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial tertutup adalah masyarakat berkasta, sebagian masyarakat feodal atau masyarakat yang dasar stratifikasinya tergantung pada perbedaan rasial.

Sistem terbuka, masyarakat di dalamnya memiliki kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan yang dibawahnya (kemungkinan mobilitas sangat besar). Contohnya adalah dalam masyarakat demokratis.

2.1.7 Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat

Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi tentang sistem lapisan masyarakat menurut Soemardjan dan Soemardi dalam Soekanto (1990) adalah kedudukan (status) dan peranan (role).

Kedudukan (status) diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestise-nya, dan hak-hak serta kewajibannya. Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan, yaitu:

a. Ascribeed-status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Pada umumnya ascribed status dijumpai pada masyarakat dengan sistem lapisan yang tertutup, misalnya masyarakat feodal (bangsawan, kasta).

b. Achieved-status, yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini bersifat terbuka bagi siapa saja yang tergantung dari kemampuan masisng-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya, misalnya: setiap orang dapat menjadi hakim asalkan memenuhi persyaratan tertentu. Kadang-kadang dibedakan lagi satu macam kedudukan, yaitu: assigned status yang merupakan kedudukan yang diberikan. Assigned status sering memiliki hubungan erat dengan achieved status.

Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan. Apabila ada seseorang melaksanakan hak dan kewajibannnya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Peranan melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyrakat merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu pada organisasi masyarakat.

2. 1. 8 Pendekatan Mempelajari Pelapisan Sosial

Menurut Zanden dalam Kamanto Sumarto (2000) dalam Sosiologi digunakan tiga pendekatan berlainan untuk mempelajari stratifikasi sosial, yaitu :

a. Pendekatan Objektif : menggunakan ukuran objektif berupa variabel yang mudah diukur secara ststistik, seperti : pendidikan, pekerjaan atau penghasilan.

b. Pendekatan Subjektif : melihat kelas sebagai suatu kategori sosial, sehingga ditandai oleh kesadaran jenis. Stratifikasi menurut pendekatan subjektif ini disusun dengan meminta pada responden survei untuk menilai status sendiri dengan jalan menempatkan diri pada suatu skala kelas, misalnya : kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.

c. Pendekatan Reputational : para subjek penelitian diminta menilai status orang lain dengan jalan menempatkan orang lain tersebut pada suatu skala tertentu. Menurut Zanden, disini kelas dipandang sebagai suatu kelompok sosial yang ditandai oleh kesadaran kelompok dan interaksi antar anggota. Dengan cara ini antara lain dapat disusun suatu skala prestise pekerjaan (occupotional prestige scale) yang memperlihatkan pringkat prestise suatu pekerjaan tertentu dalam skala komunitas.

2. 1. 9 Teori Pembentukan Pelapisan Sosial

Stratifikasi sosial dapat terjadi sejalan dengan prooses pertumbuhan atau dibentuk secara sengaja dibuat untuk mencapai tujuan bersama. Seperti apa yang dikemukakan oleh Karl Marx yaitu karena adanya pembagian kerja dalam masyarakat, konflik sosial dan kepemilikan.

a. Pembagian Kerja

Jika dalam sebuah masyarakat terdapat pembagian kerja, maka akan terjadi ketergantungan antar indivudu satu dengan indivudu yang lain. Seorang yang sukses dalam mengumpulkan semua sumber daya yang ada dan berhasil dalam kedudukannya dalam sebuah masyarakan akan semakin banyak yang akan diraihnya. Sedangkan yang bernasib buruk berada diposisi yang amat tidak menguntungkan. Semua itu adalah penyebab terjadinya stratifikasi sosial yang berawal dari ketidaksamaan dalam kekuasaan dalam mengakses sumberdaya.

Menurut Bierstedt (1970) dalam Prasodjo dan Pandjaitan (2003) pembagian kerja adalah : merupakan fungsi dari ukuran masyarakat.

1. Merupakan syarat perlu terbentuknya kelas.

2. Menghasilkan ragam posisi dan peranan yang membawa pada ketidaksamaan sosial yang berakhir pada stratifikasi sosial.

b. Konflik Sosial

Konflik sosial disini dianggap sebagai suatu usaha oleh pelaku- pelaku untuk memperebutkan sesuatu yang dianggap langka dan berharga dalam masyarakat. Pemenangnya adalah yang mendapatkan kekuasaan yang lebih dibanding yang lain. Dari sinilah stratifikasi sosial lahir. Hal ini terjadi karena terdapat perbedaan dalam pengaksesan suatu kekuasaan.

c. Hak Kepemilikan

Hak kepemilikan adalah lanjutan dari konflik sosial yang terjadi karena kelangkaan dari sumberdaya. Maka yang memenangkan konflik sosial akan mendapat akses lebih dan terjadi kelangkaan pada kepemilikan terhadap sumberdaya tersebut.

Setelah semua akses yang mereka dapatkan, maka mereka akan mendapatkan kesempatan hidup (life change) dari yang lain. Lalu mereka akan memiliki gaya hidup (life style) yang berbeda dari yang lain serta menunjukan dalam simbol-simbol sosial tertentu.

2.2 Kerangka Berfikir

clip_image003

BAB III

METODOLOGI

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kampung Sindang Baru, Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja. Waktu penelitian dilakukan selama tiga hari dua malam, yaitu tanggal 16-18 Desember 2008.

3.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber data, yaitu: data primer dan data sekunder. Data primer berupa data kualitatif, terdiri dari sekumpulan uraian murni berbagai orang, kegiatan dan interaksi sosial (Sitorus 1998:39). Adapun data sekunder adalah data-data ynag bersumber dari dokumentasi tertulis baiuk di desa maupun dari sumber-sumber rujukan atau literatur.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan metode indepth interview dengan informan kunci dan observasi langsung di lapangan. Sedangkan, data sekunder didapatkan dengan metode penelusuran dokumen.

3.3 Teknik Analisis Data

Keseluruhan data yang diperoleh dari hasil wawancara, hasil pengamatan di lapang, maupun kutipan dari berbagai dokumen disajikan dalam suatu catatan harian yang dianalisis sejak pertama kali dating ke lapangan dan berlangsung terus menerus selama dalam penelitian berlangsung. Data-data kemudian direduksi yaitu suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian, serta penyederhanaan data-data kasar untuk kemudian diproses berdasarkan kelompok-kelompok sub tema yang sama. Dari proses tersebut diharapkan menghasilkan suatu outline laporan akhir yang memudahkan bagi peneliti untuk menyelesaikan laporan hasil penelitiannya secara terstruktur.

BAB IV

KONTEKS LOKASI

4.1 Infrastruktur

Pengertian infrastruktur merujuk pada sistem fisik dalam menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik lain seperti listrik, telekomunikasi, air bersih, dan sebagainya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi  (Grigg, 1988). Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Sistem infrastruktur dapat didefinisikan sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat (Grigg,1988).

4.1.1 Gambaran Fisik Desa Ciasmara

Desa Ciasmara terletak disebelah barat Kota Bogor. Desa ini terdiri dari 1654 kepala keluarga. Adapun batas-batas desa Ciasmara sebagai berikut:

Utara : Desa Cibunian

Selatan : Kecamatan Kebandungan-Sukabumi

Timur : Desa Ciasihan

Barat : Desa Purwabakti

clip_image005

Gambar 4.1 Peta Wilayah Desa Ciasmara

4.1.2 Mata Pencaharian Desa

Sebagian besar masyarakat Desa Ciasmara bekerja sebagai petani. Terbukti dari 7339 penduduk yang bekerja sebagai petani terdiri dari 1993 orang. Selain petani, masyarkat Desa Ciasmara ada yang bekerja sebagai buruh tani, buruh atau swasta, pegawai negeri, pengrajin, pedagang, peternak dan montir. Jumlah individu dengan profesinya masing-masing bisa terlihat pada table berikut:

Tabel 4.1 Data Mata Pencaharian Penduduk Desa Ciasmara

MATA PENCAHARIAN

DESA CIASMARAPetani1193Buruh Tani434Buruh/ swasta170Pegawai Negeri20Pengrajin20Pedagang250Peternak32Montir10

Sumber: Laporan Kepala Desa Ciasmara, 2007

Berdasarkan table diatas, bisa dilihat bahwa mayoritas penduduk desa Ciasmara mempunyai mata pencaharian di sektor pertanian, yaitu sebanyak 56% dari jumlah total adalah petani dan 20,39% merupakan buruh tani yang biasanya tidak memiliki lahan sendiri. Sebanyak 11,74% berprofesi sebagai pedagang, dan sisanya bekerja di sektor peternakan dan swasta. Ada pula yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri, montir, dan pengrajin dengan persentase masing-masing dibawah 1%.

Gambar 4.2 Diagram Persentase mata Pencaharian Penduduk Desa Ciasmara

clip_image007Sumber: Laporan Kepala Desa Ciasmara, 2007

4.1.3 Sarana dan Prasarana Desa

Sarana dan prasarana yang tersedia di Desa Ciasmara cukup memadai dan sangat menunjang bagi pengkoordinasi seluruh aspek kehidupan masyarakat setempat. Sarana dan prasarana tersebut terdiri atas: balai desa, balai pertemuan/aula, dan pos kamling. Selain itu ada juga sarana dan prasarana di bidang perhubungan yang terdiri atas: jalan beton, jalan “Hot Mix”, jalan pengerasan, jalan aspal, dan jalan tanah. Sarana dan prasarana pendidikan pun tersedia dan cukup lengkap, yang terdiri dari SDN, SLTP, MI, MTs, MA, TPA, PAUD, TK, Pondok Pesantren, dan tempat kursus. Sarana dan prasarana ibadah juga tersedia antara lain masjid, mushola, dan majelis ta’lim. Untuk sarana dan prasarana kesehatan berupa satu puskesmas dan posyandu (10 buah). Terakhir, fasilitas perekonomian/perdagangan yaitu: warung/toko sebanyak 40 buah, 2 kios Saprodi, satu terminal desa, dan satu koperasi simpan pinjam.

Berikut adalah tabel sarana dan prasarana pendidikan Desa Ciasmara:

Tabel 4.2 Sarana dan Prasarana Pendidikan Desa Ciasmara

SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN

DESA CIASMARANo.Fasilitas PendidikanJumlah1.Sekolah Dasar Negeri1 buah2.Sekolah Lanjutan Pertama1 buah3.Madrasar Ibtidaiyah1 buah4.Madrasah Tsanawiyah1 buah5.Madrasah Aliyahah1 buah6.Tempat Kursus1 buah7.TPA1 buah8.PAUD11 buah9.Pondok Pesantren15 buah10.TK1 buah

Sumber: Laporan Kepala Desa Ciasmara, 2007

Selain sarana dan prasarana pendidikan, terdapat kelengkapan infrastruktur lainnya berupa jalan raya “hotmix” dan beton yang dibangun dari APBD desa, swadaya masyarakat, ataupun dari PT. Chevron yang bergerak pada sektor pertambangan. Jalan raya ini merupakan akses bagi masyarakat desa setempat dalam menjalankan roda perekonomiannya.

Gambar 4.3 Grafik panjang jalan di Desa Ciasmaraclip_image009

Sumber: Laporan Kepela Desa Ciasmara, 2007

4.1.4 Gambaran Fisik Kampung Sindang Baru, Desa Ciasmara

Kampung Sindang Baru merupakan bagian dari Desa Ciasmara, Bogor. Kampung ini secara territorial berada di RW 4 RT 5, dengan batas daerah yaitu:

a. Utara : Kampung Sindang Anyar

b. Selatan : Kampung Hergamanah

c. Timur : Kampung Cahaya

d. Barat : Kampung Babakan

4.1.5 Mata Pencaharian Masyarakat Kampung Baru

Sebagian besar masyarakat kampung Sindang Baru bekerja sebagai petani. Ada juga yang bekerja sebagai buruh tani, buruh/swasta, pengawai negeri, pengrajin, peternak, pedagang, dan montir. Secara garis besar, mayoritas kehidupan masyarakat di kampung ini dilandasi oleh nilai-nilai agama yang dominan Islam.

4.2 Suprastruktur

Suprastruktur berarti landasan infrastruktur dan didalamnya akan mencakup kepemimpinan, regulasi, sumber daya manusia, kebijakan, dan regulasi yang menyangkut sistem secara nasional dan yang terkait dengan pengelolaan serta pemanfaatan sistem antar lembaga dan antara lembaga dengan publik, untuk intra lembaga akan diserahkan kepada masing-masing instansi.

4.2.3 Dinamika Sejarah Lokal

Nama desa Ciasmara menurut persepsi mitos masyarakat setempat dikarenakan pada zaman dahulu terdapat sepasang kekasih yang sedang kasmaran dan mereka sering menghabiskan waktu bersama di atas gunung. Suatu ketika, sang pria meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya. Karena sedih, sang wanita menangis di atas gunung tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Air mata wanita tersebut mengalir dan membendung di satu desa dan sekarang desa itu dikenal dengan nama Desa Ciasmara.

Terdapat versi lain dari Desa Ciasmara yaitu ada seorang gadis yang sedang mencuci baju di sungai, lalu ada seorang pria yang memperhatikan gadis tersebut dengan malu-malu. Pria tersebut menyukai gadis itu dan gadis itu pun demikian. Karena sungai tersebut bernama Sungai Ciasmara dan desa yang terletak di sekitar sungai tersebut dinamakan Desa Ciasmara.

4.2.4 Karakteristik Masyarakat

Masyarakat Desa Ciasmara sangat ramah para pendatang, hal ini terbukti dengan kesediaan mereka untuk memberikan tempat tinggal selama penelitian berlangsung. Dari hasil wawancara dengan beberapa masyarakat Desa Ciasmara, diketahui bahwa yang melakukan kegiatan pertanian hanyalah orang tua dan sebagian besar pemuda di desa tersebut hanya menganggur dan bermalas-malasan dari pagi hingga malam hari. Terdapat faktor yang membuat para pemuda bertindak demikian, salah satunya karena para orang tua mereka tidak menginginkan anak mereka bekerja sebagai petani juga, mereka menganggap bekerja di bidang pertanian tidak memberikan perkembangan bagi keluarga mereka terutama dalam segi ekonomi.

BAB V

REALITA DIFERENSIASI DAN STRATIFAKSI SOSIAL

DI DESA CIASMARA

5.1 Diferensiasi (Ketidaksamaan) Sosial

Diferensiasi (pembedaan) sosial mengasumsikan bahwa dalam masyarakat terdapat sejumlah kedudukan dan peranan yang diberi penilaian berbeda. Sorokin (1989) menyatakan bahwa sistem pelapisan masyarakat merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur. Stratifikasi sosial terjadi dikarenakan adanya diferensiasi sosial dan ketidaksamaan sosial (social inequality).

Diferensiasi atau ketidaksamaan sosial merupakan hal yang pasti ada saat kita membahas stratifikasi sosial. Ketika terdapat pembedaan dan ketidaksamaan dalam masyarakat, tentunya menyebabkan masyarakat tersebut manjadi bekelas-kelas atau bertingkat-tingkat. adapun yang kami temukan di Desa Ciasmara, diferensiasi dan ketidaksamaan sosial mengacu pada:

1. Kepemilikan Lahan

Berdasarkan hasil data Desa Ciasmara didapat hasil bahwa kepemilikan lahan di desa tersebut menjadi salah satu faktor pembeda atau dasar diferensiasi masyarakat. Anggota masyarakat yang memiliki lahan sawah yang luas biasanya memegang peranan penting terutama dalam pergerakan roda ekonomi masyrakat Desa Ciasmara.

2. Kekayaan

Sisi kekayaan yang kami maksud disini adalah kepemilikan aset-aset diluar kepemilikan tanah. Seperti halnya alat penggilingan padi dan sector perdagangan (usaha jual beli emas, kepemilikan salon dan perlengkapan pesta, juragan angkot, toko penyedia kebutuhan sehari-hari).

3. Tingkat Pendidikan

Sektor pendidikan dapat dijadikan faktor diferensiasi yang ada di Desa Ciasmara. Pendidikan yang ada dalam konteks ini dibagi enjadi dua, yaitu pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal meliputi lulusan SD, SLTP, SMA dan Perguruan Tinggi. Seperti orang-orang yang mnduduki jabatan di dalam pemerintahan desa mempunyai persyratan minimal lulusan SMA atau sederajat. Dasar diferensiasi pendidikan informal dapat menunjukan kedudukan individu dalam masyarakat misalnya alim ulama dan tokoh masyarakat.

5.2 Sistem Pelapisan Masyarakat

Secara keseluruhan masyarakat desa dapat disusun menjadi suatu sistem berlapis, mulai dari kelas rendah, menengah, hingga kelas tinggi. Namun, dalam penelitian kali ini kami hanya mengklasifikasikan lapisan atas dan bawah untuk melihat melihat hubungn yang lebih ekstrim dalam kehidupan masyarakat desa. Berdasarkan dasar diferensiasi yang telah kami jelaskan diatas dapat kami lakukan penggolongan anggota masyarakat Desa Ciasmara sehingga didapat pelapisan masyarakat yang berdasarkan teori Calhoun dalam Soekanto sebagai berikut:

Ukuran kekayaan, dari hasil penelitian kami barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut misalnya: mobil, rumah, tanah, dan sebagainya. Di Desa Ciasmara terdapat klasifikasi sebagai berikut :

1. Lapisan Atas adalah anggota masyarakat yang mempunyai aset lahan pertanian yang luas dan aset lainnya diluar pertanian (usaha jual beli emas, kepemilikan salon dan perlengkapan pesta, juragan angkot, toko penyedia kebutuhan sehari-hari) yaitu Pak Haji Sawa (sebagai pemilik lahan pertanian terluas), Pak Haji Idris (pemilik alat penggilingan padi), pemilik toko emas, dan pemilik salón dan penyedia peralatan pesta.

2. Lapisan bawah adalah anggota masyarakat yang memiliki lahan sempit dan atau tidak memiliki lahan sama sekali tetapi mereka hanya sebagai penggarap dan buruh tani. keduanya hanya mengandalkan hasil dari pembagian hasil panen (bawon). pengarap adalah petani yang tidak memiliki lahan dan mereka mendapatkan bagi hasil dengan pembandingan 1 berbanding 5, dan petani tersebut tidak bisa berpindah ke pengolahan lahan sawah yang lain selama satu periode tanam. sedangkan buruh tani adalah petani yang tidak memiliki lahan dan hanya membantu proses pengolahan sawah secara musiman pada saat yang diperlukan misalnya pada saat panen dan pada saat musim tandur. Buruh tani tidak terikat dalam suatu periode tanam tertentu, dan kontrak kerja mereka berakhir ketika tugas merek selesai. Perhitungan upah kerja sebanyak 20.000 per hari buruh tani pria dan 15.000 untuk buruh tani wanita.

Ukuran kekuasaan, kekausaan merupakan kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain. Dari hasil penelitian kami barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan atas. Di Desa Ciasmara, hal ini tercermin dari posisi anggota masyarakat dalam pemerintah desa.

Lapisan atas merupakan orang-orang yang mempunyai posisi yang strategis dalam struktur pemerintahan desa yaitu Bapak Maman Firmansayah selaku kepala desa Ciasmara, beserta semua stafnya yang meliputi sekretaris desa ( Bapak Suhada), Ketua urusan Pemerintahan (Naji Suhadi), Kaur Pembangunan (Anung S), Kaur Umum (Lilis Suryanu, Mitra tani (Agah Nugraha, Maji, Ija), Mitra Cai (Badrudin, Madsuri, H. Abeng), Kadus 1 (Unang), Kadus 2 (H.Sugandi), Kadus 3 (Sanadi).

Kelompok masyarakat lain yang tidak memiliki kepentingan dalam pemerintahan digolongkan ke dalam lapisan bawah yang terdiri dari masyarakat biasa yang tidak memiliki kemampuan penganbilan keputusan secara langsung.

Ukuran kehormatan, orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa. yang termasuk pada golongan ini adalah Bapak Haji Amil yang diangggap sebagai tokoh masyarakat setempat tang memiliki andil untuk mengeluarkan pendapat yang mewakili suara masyarakat setempat. Beliau menjadi perwakilan pada setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Desa Ciasmara.

Ukuran ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Indikator dari ilmu pengetahuan itu dilihat dari pendidikan yang diselesaikan. Lapisan atas terdiri dari atas para kyai yang memimpin pondok pesantren setempat. Terdapat beberapa kyai di desa Ciasmara salah satunya yaitu Kyai Anin. Selain itu juga terdapat beberapa lulusan dari perguruan tinggi yang mempunyai peran sebagai tokoh yang dianggap tinggi dari masyarakat di sekitarnya. Mereka dianggap lebih mampu untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat sehingga dapat diajak bekerja sama dalam pengambilan keputusan yang terjadi di desa tersebut.

5.3 Kondisi Yang Mendorong Terciptanya Stratifikasi

Menurut Fernandes dkk (1997) kondisi yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarakat ada tiga, yaitu: perbedaan ras dan budaya, pembagian tugas, dan kelankaan. Berdasarkan tinjauan di lapangan, kondisi yang mendorong terjadinya stratifikasi di desa Ciasmara adalah kelangkaan, dimana terjadi alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka. Temuan di desa menunjukkan penguasaan alokasi tanah/ lahan pertanian oleh Pak H.Sawa yang merupakan pemilik dari mayoritas lahan pertanian desa Ciasmara, sehingga menempatkan beliau pada posisi atas.

5.4 Sifat Sistem Pelapisan Masyarakat

Merujuk pada pendapat Soekanto (1990), mengenai sifat sistem pelapisan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa di Desa Ciasmara sistem pelapisan masyarakatnya bersifat terbuka (open social stratification). Hal ini dikarenakan masyarakat didalamnya memiliki kesempatan untuk berusaha untuk mengubah posisinya dimasyarakat. Terdapat kebiasaan masyarakat setempat untuk merantau ke Arab Saudi sebagai TKI. Tujuan utamanya tidak berorientasi pada materi, tetapi lebih kepada gelar haji yang akan disandang, yang merupakan possisi yang dianggap baik oleh masyarakat setempat. Selain itu, ada juga kebiasaan merantau untuk menuntut ilmu di pesantren, sehingga ketika kembali ke Desa menyandang gelar sebagai kyai.

5.5 Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat

Unsur teori sosiologi tentang sistem lapisan masyarakat menurut Soemardjan dan Soemardi dalam Soekanto (1990) adalah kedudukan (status) dan peranan (role). Menurut teori ini pula, masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan, yaitu: Ascribeed-status dan Achieved-status. Kedudukan seseorang dalam masyarakat desa Ciasmara merupakan Achieved-status atau kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Sebagai contoh adalah seorang warga desa Ciasmara yang mempunyai toko usaha jual-beli emas di pasar Ciampea. Beliau tadinya merupakan warga yang biasa saja, namun berkat kegigihannya usahanya terus berkembang dan berhasil menaikkan taraf hidup yang sekaligus menaikkan posisinya dimasyarakat.

5.6 Pendekatan Mempelajari Pelapisan Sosial

Menurut Zanden dalam Kamanto Sumarto (2000) dalam Sosiologi digunakan tiga pendekatan berlainan untuk mempelajari stratifikasi sosial, yaitu : pendekatan objektif, pendekatan subjektif, dan pendekatan reputational. Dalam turun lapang kali ini pendekatan yang kami gunakan adalah pendekatan objektif, yaitu dengan menggunakan ukuran objektif berupa variabel yang mudah diukur secara ststistik, seperti : pendidikan, pekerjaan atau penghasilan.

5.7 Teori Pembentukan Pelapisan Sosial

Stratifikasi sosial dapat terjadi sejalan dengan proses pertumbuhan atau dibentuk secara sengaja dibuat untuk mencapai tujuan bersama. Seperti apa yang dikemukakan oleh Karl Marx yaitu karena adanya pembagian kerja dalam masyarakat, konflik sosial dan hak kepemilikan. Analisis kami terhadap data yang berhasil kami kumpulkan di desa Ciasmara, pembentukan pelapisan sosial berdasarkan pada pembagian kerja. Pembagian kerja menurut Biersted (1970) merupakan fungsi dari ukuran masyarakat yang menjadi syarat perlu terbentuknya kelas dan mengahasilkan ragam posisi dan peranan yang membawa pada ketidaksamaan sosial yang berakhir pada stratifikasi sosial. Hal ini ditandai dengan ketidaksamaan dalam kekuasaan dalam mengakses sumberdaya, dimana ada seseorang yang sukses dalam mengumpulkan semua sumber daya yang ada dan berhasil dalam kedudukannya di masyarakat, yaitu Pak H.Sawa yang menguasai hampir seluruh lahan pertanian di desa tersebut, dan imbas terhadap pembagian kerja dimasyarakat ada yang menjadi penggarap dan buruh tani.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Desa Ciasmara kampung Sindang Barang terdiri dari beberapa lapisan yaitu, lapisan atas dan lapisan bawah. Pendekatan yang dilakukan dalam turun lapang kali ini adalah pendekatan objektif, dimana kami menggunakan variabel-variabel yang mudah di ukur seperti; pendidikan, pekerjaan atau penghasilan.

Dari hasil ananlisis didapat kenyataan bahwa anggota masyarakat yang termasuk golongan atas adalah anggota masyarakat yang mempunyai kepemilikan lahan yang dominan. Meski begitu, ada juga golongan atas yang dikarenakan kepemilikian/ usaha diluar sektor pertanian.

Sistem stratifikasi bersifat terbuka atau disebut achieved status, dimana setiap anggota masyarakat berhak mengubah kedudukannya di masyarakat.

Hubungan antara golongan atas dan bawah mengindikasikan adanya hubungan patron-klien di desa tersebut. Hubungan patron-klien ini terlihat jelas pada sektor pertanian, dimana Pak H.Sawa menguasai hampir seluruh lahan pertanian dan anggota masyarakat lainnya menjadi penggarap dan buruh tani dilahan miliknya. Sistem pembagian hasil disana menggunakan sistem bawon dengan perbandingan 1:5, untuk penggarap.

6.2 Saran

Desa Ciasmara merupakan daerah yang potensial. Kekayaan di sektor pertanian perlu dikembangkan, kelompok tani yang sudah terbentuk harus lebih digiatkan kembali, karena dari kelompok tani inilah akan muncul berbagai inovasi baru yang dapat meningkatkan keterampilan dan hasil produksi pertanian.

Pemahaman warga desa terhadap pentingnya pendidikan formal harus ditingkatkan, demi peningkatan kualitas sumber daya manusia desa Ciasmara, terutama generasi muda, yang pada akhirnya bisa menjadi agen pembangunan desa Ciasmara.

DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono.2000.Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Kolopaking, Lala M, dkk.2003. Sosiologi Umum. Bogor : Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian IPB.

http://www.pu.go.id/ditjen_mukim/agro/index.asp?action=Menu_latar_belakang (diakses pada tanggal 13 Januari 2009)

http://209.85.175.132/search?q=cache:Cdta8Q4w4G8J:yb1zdx.arc.itb.ac.id/data/OWP/library-ref-ind/ref-ind-1/application/poverty-reduction/ICT-Indonesia/Sisfonas/LMP2%2520Definisi%2520dan%2520Kata%2520Kunci.pdf+definisi+suprastruktur&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id

(diakses pada tanggal 13 Januari 2009)

NURAFNI FASHION

Menyediakan Koleksi pakaian fashion, modis dan Trendi, Detail>>

CPNSONLINE.COM

persiapankan diri Anda dengan latihan soal-soal dan pembahasannya untuk menghadapi Ujian Seleksi CPNS 2013-2014,sehingga Anda akan lebih percaya diri dalam mengikuti seleksi CPNS tahun ini. Kami sangat menyadari dan mengerti kebutuhan Anda, Informasi dan materi apa saja yang Anda butuhkan, serta latihan soal tes yang bagaimana seharusnyaAnda persiapkan. Semua kebutuhan Anda kini kami rangkum dalam ebook ini, Detail>>

About these ads

1 Comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s