Hama dan Penyakit Tumbuhan

soalcasn2-468x60.gif

”Pengertian, Penyebab dan Syarat-Syarat Keterjadian Hama dan penyakit”

Oleh : Radix Suharjo

Seringkali istilah hama dan penyakit tumbuhan kita dengar dan sudah akrab di telinga kita. Namun, apakah sebenarnya hama dan penyakit tumbuhan itu?. Untuk menjawab pertanyaan itu, maka dalam tulisan ini akan dibahas tentang hama dan penyakit tumbuhan, mulai dari pengertian, penyebab, dan syarat-syarat keterjadian hama dan penyakit.

Pengertian hama dan penyakit tumbuhan.

Ditinjau dari segi biologi, hama dan penyakit tumbuhan merupakan penyimpangan dari sifat normal, sehingga menyebabkan tumbuhan atau bagian tumbuhan tidak dapat menjalankan ”kegiatan” dalam tubuhnya sebagaimana mestinya. Semua tumbuhan atau bagian tumbuhan yang menyimpang dari sifat biasanya, maka tumbuhan atau bagian tumbuhan tersebut disebut sakit. Ditinjau dari segi ekonomi, hama dan penyakit tumbuhan adalah ketidakmampuan tumbuhan untuk memberikan hasil yang cukup kuantitas (jumlah) ataupun kualitasnya.

Dari dua pengertian tersebut, maka kita akan lebih memilih definisi kedua, yaitu yang ditinjau dari segi ekonomi, karena belum tentu tanaman yang menyimpang itu merugikan petani, malahan kadangkala menguntungkan. Contohnya adalah kelapa kopyor. Kalau ditinjau dari segi biologi, kelapa kopyor itu merupakan buah yang sakit, akan tetapi karena sakit itu, maka kelapa tersebut memiliki harga yang tinggi, sehingga lebih menguntungkan petani. Petani akan lebih mengharapkan kelapanya sakit (kopyor) daripada kelapa yang sehat, karena akan mendapatkan pendapatan yang lebih. Oleh karena itu, di dalam tulisan ini, akan dibahas tentang hama dan penyakit tanaman yang mengacu pada kondisi yang menyebabkan tanaman tidak mampu untuk memberikan hasil yang cukup kuantitas (jumlah) ataupun kualitasnya.

Penyebab hama dan penyakit

Secara umum, penyebab hama dan penyakit berasal dari gangguan faktor lingkungan dan jasad renik. Hama dan penyakit yang berasal dari gangguan faktor-faktor lingkungan misalnya kekurangan hara (Fe, N, P, K, S, Ca, Mg, Zn), kekeringan, suhu yang terlalu panas dan lain sebagainya. Sedangkan penyebab hama dan penyakit yang berasal dari jasad renik, secara umum berasal dari golongan jamur, bakteri, virus dan nematoda. Pada tulisan ini hanya akan dibahas tentang penyebab hama dan penyakit yang berasal dari golongan jasad renik (jamur, bakteri, virus dan nematoda).

Dilihat dari ukurannya, ketiga penyebab hama dan penyakit ini memiliki ukuran yang sangat kecil dan sulit bila dilihat dengan mata telanjang, jauh lebih kecil dari tungau, ulat, belalang dan tikus yang kemudian biasa disebut ”hama tanaman” yang bisa dengan mudah dilihat dengan mata telanjang.

Penyebab hama dan penyakit setelah melakukan kontak dengan salah bagian tanaman akan menginfeksi bagian tanaman tersebut. Apabila pertahanan dari tanaman tersebut lemah, maka proses yang ada pada bagian tanaman akan terganggu, sehingga bagian tanaman tersebut akan menjadi sakit. Apabila bagian tanaman tersebut sakit, maka akan muncul gejala khas yang menunjukkan jenis hama dan penyakit tersebut, apakah disebabkan oleh jamur, bakteri, virus ataukah nematoda. Bagian tanaman yang sakit ini kemudian akan menjadi sumber hama dan penyakit dan akan dapat menyebar ke tanaman lain yang sehat melalui, angin, air, alat-alat pertanian, serangga, bahkan melalui perantaraan manusia. Apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian, maka seluruh tanaman akan menjadi sakit, sehingga kerugian akan menjadi semakin besar.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu patogen dapat menyebabkan tanaman sakit dan menunjukkan gejala. Penjelasan lebih rinci tentang hubungan antara syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :

Konsep segi tiga hama dan penyakit

Hama dan penyakit akan terjadi apabila dalam satu waktu di suatu tempat terdapat 3 (tiga) syarat. 1). Tumbuhan yang mudah terserang hama dan penyakit (rentan), 2). Penyebab hama dan penyakit yang mampu menginfeksi (virulen) dan 3). lingkungan yang mendukung atau sesuai. Hama dan penyakit tidak akan terjadi apabila salah syarat di atas tidak terpenuhi, walaupun dua syarat lain terpenuhi. Konsep ini kemudian dikenal sebagai konsep segitiga hama dan penyakit.

clip_image001

Konsep limas hama dan penyakit

Selanjutnya, manusia yang berperan sebagai petani atau penanam akan berusaha mempengaruhi ketiganya agar terjadi hubungan yang menguntungkan baginya. Manusia mempengaruhi faktor tumbuhan dengan memilih bibit yang unggul atau memilih jenis yang tahan. Dengan melakukan penyemprotan pestisida, manusia mempengaruhi penyebab hama dan penyakit. Manusia juga mempengaruhi lingkungan kondisi lingkungan secara terbatas dengan melakukan pengaturan jarak tanam, penyiangan, pemangkasan dan lain sebagainya. Dari semua itu, ternyata manusia juga berperan di sini. Ketiga syarat tersebut ternyata dipengaruhi oleh kegiatan budidaya pertanian petani, sebagai upaya untuk meningkatkan produksi tanamannya. Dari sini kemudian muncullah konsep limas hama dan penyakit.

clip_image002

Akibat dari campur tangan manusia ini (budidaya tanaman), maka konsep segi tiga hama dan penyakit tersebut menjadi tidak lagi berjalan secara selaras dan seimbang. Di sini, ternyata manusia memegang peranan yang lebih dominan atau utama untuk menentukan keterjadian suatu hama dan penyakit pada suatu daerah. Proses budidaya tanaman (pemupukan, pengaturan jarak tanam, pemangkasan, pemilihan jenis tahan, dan pengendalian hama dan hama dan penyakit tanaman) oleh petani menyebabkan ketimpangan yang terlalu jauh diantara ketiga aspek tersebut.

Munculnya jenis penyebab hama dan penyakit yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang mendukung, lebih ampuh (virulen) dan lebih tahan terhadap penggunaan pestisida tertentu merupakan salah satu akibat dari campur tangan manusia tersebut. Keadaan ini menyebabkan pengendalian hama dan penyakit menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Dan kondisi ini biasanya terjadi apabila cara budidaya yang dilakukan oleh petani kurang bijaksana. Penggunaan pupuk kimia dan penggunaan pestisida yang berlebih (tidak sesuai dengan dosis anjuran) merupakan salah satu contoh dari cara budidaya yang kurang bijaksana.

Untuk menekan dampak negatif tersebut, maka cara budidaya yang bijaksana harus dilakukan. Dengan begitu, tidak akan terjadi ketimpangan yang terlalu jauh antara ketiga hal yang mempengaruhi keterjadian hama dan penyakit (lingkungan, penyebab hama dan penyakit dan tanaman), sehingga pengendalian hama dan penyakit tanaman akan dapat lebih mudah untuk dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G.N. 2005. Plant pathology (fifth edition). Elsevier. Academic Press.

Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Hama dan penyakit Tumbuhan. Gadjah mada University Press. Yogyakarta

Penggunaan Fungisida dalam Pengendalian

Hama dan penyakit Tanaman

Oleh: Titik Nur Aeny

Pendahuluan

Berbagai metode telah digunakan untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman, yaitu meliputi (a) pemberlakuan peraturan yang membatasi penyebaran bahan tanaman yang terinfeksi hama dan penyakit dari satu daerah ke daerah lain, (b) penggunaan praktik-praktik budidaya yang dapat menghindarkan tanaman dari hama dan penyakit maupun mengurangi jumlah inokulum patogen, (c) penanaman cultivar tahan, dan (d) penggunaan senyawa kimia untuk menyelamatkan tanaman dari hama dan penyakit. Keempat metode di atas merupakan aplikasi dari empat prinsip pengendalian hama dan penyakit tanaman, yaitu eksklusi, eradikasi, resistensi, dan proteksi.

Secara umum dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun metode tunggal tertentu yang betul-betul efektif dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Artinya, di dalam usaha mengendalikan hama dan penyakit tertentu harus dilakukan dengan beberapa metode atau cara yang saling mendukung. Namun demikian, sampai sekarang petani masih lebih mengandalkan dan lebih percaya pada penggunaan bahan senyawa kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Berbagai senyawa kimia telah digunakan dalam pengendalian hama dan penyakit-hama dan penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, nematoda, maupun virus, tetapi yang paling banyak adalah penggunaannya dalam mengendalikan hama dan penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Penggunaan senyawa kimia dalam pengendalian hama dan penyakit merupakan metode yang dilaksanakan untuk mencapai tiga prinsip pengendalian yaitu eksklusi, eradikasi, dan proteksi. Sejarah perkembangan penggunaan fungisida dan jenis-jenis fungisida yang dipakai di dunia sudah banyak dilaporkan.

Apakah fungisida itu?

Istilah fungisida berasal dari bahasa Latin yang berarti suatu agens yang mampu membunuh cendawan. Namun pada perkembangan penggunaan secara umum, kata fungisida ditujukan khusus pada bahan kimia saja sehingga istilah fungisida saat ini diketahui sebagai bahan atau senyawa kimia yang mampu membunuh maupun menghambat pertumbuhan cendawan. Disamping fungisida dikenal juga istilah bakterisida yaitu senyawa kimia yang dapat membunuh bakteri, dan nematisida untuk membunuh nematoda.

Diantara beberapa kelompok patogen, cendawan diketahui sebagai kelompok patogen yang paling banyak menginfeksi dan menyebabkan hama dan penyakit pada tanaman yang dibudidayakan. Hal inilah yang menyebabkan kelompok fungisida menjadi lebih dikenal dibandingkan dengan kelompok bakterisida maupun nematosida.

Beberapa bahan kimia tidak bersifat membunuh cendawan tetapi hanya menghambat pertumbuhannya untuk sementara waktu. Apabila cendawan dibersihkan atau dibebaskan dari pengaruh fungisida tersebut maka cendawan akan kembali aktif. Pada kelompok lain diketahui adanya beberapa fungisida yang menghambat produksi spora tanpa mempengaruhi pertumbuhan hifa vegetatif.

Pengelompokan Fungisida

Pengelompokan fungisida dapat dilakukan berdasarkan pada berbagai cara dan kepentingan yang berbeda sehingga pada umumnya bersifat tidak tetap. Klasifikasi fungisida dapat didasarkan pada (1) cara kerja, (2) kegunaan umum, (3) cara aplikasi, dan (4) macam bahan kimia. Berdasarkan cara kerjanya, fungisida dapat dikelompokkan menjadi penghambat perkecambahan spora, penghambat pertumbuhan, penghambat perkembangbiakan, dan pembunuh secara langsung. Berdasarkan kegunaan umum, fungisida dibedakan menjadi protektan, penutup luka, eradikan, perlakuan tanah (fumigan), dan perlakuan gudang penyimpanan. Berdasarkan cara aplikasinya fungisida dikelompokkan menjadi penyemprotan/penghembusan pada bagian-bagian tanaman di atas permukaan tanah, perlakuan benih/bahan perbanyakan tanaman, perlakuan pada tanah (fumigasi), perlakuan terhadap luka, perawatan pasca panen, dan desinfektan untuk gudang penyimpanan.

Pengelompokan ditujukan untuk mempermudah pemahaman terhadap beberapa perbedaan antara kelompok fungisida yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, pengelompokan fungisida akan berubah dan berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan manusianya. Dalam Utomo (1992), fungisida digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu (1) fungisida anorganik, (2) fungisida organik non-sitemik, dan (3) fungisida organik sistemik.

Fungisida Protektan.

Beberapa fungisida yang bersifat sebagai protektan dapat digunakan pada benih atau tumbuhan yang belum terserang hama dan penyakit, dengan tujuan melindungi benih dan menghindarkannya dari cendawan. Hal ini disebabkan oleh adanya spora pada permukaan atau di bagian dalamnya terdapat miselium yang berada dalam keadaan dorman. Pada saat ini, fungisida yang mempunyai sifat ketahanan yang lama dapat digunakan untuk melindungi benih. Usaha-usaha untuk mendapatkan fungisida yang baik masih banyak dilakukan untuk mengatasi masalah hama dan penyakit tumbuhan. Ahli-ahli genetika tumbuhan banyak yang sedang melakukan penelitian untuk mendapatkan varitas­-varitas baru yang mempunyai ketahanan terhadap suatu jenis hama dan penyakit. Penemuan dalam bidang ini akan sangat bermanfaat di dalam meningkatkan mutu hasil-hasil pertanian.

Beberapa sifat fungisida yang baik digunakan sebagai protektan ialah:

(1) Aktif dalam waktu yang cukup lama setelah penggunaannya.

(2) Mempunyai sifat dapat melekat dengan baik. Patogen tersebar luas melalui air hujan, oleh karena itu fungisida yang baik mestilah tidak mudah tercuci oleh air.

(3) Mempunyai sifat dapat menyebar dengan baik. Untuk melindungi permukaan daun dan batang, fungisida harus dengan mudah tersebar merata di atas permukaan daun dan batang. Ini dapat dilakukan dengan bantuan zat pembasah. Meskipun demikian penggunaan zat pembasah yang terlampau banyak dapat menyebabkan fitotoksik karena banyak­nya racun yang masuk ke dalam jaringan tumbuhan.

(4) Stabil dan tidak mudah terurai oleh adanya cahaya.

(5) Fungisida harus beracun dan dapat membunuh patogen tetapi tidak menimbulkan keracunan pada tanaman pokoknya.

(6) Tidak terlalu spesifik terhadap satu macam jamur patogen saja tetapi juga terhadap beberapa mikroba patogen lainnya.

(7) Masih efektif jika penggunaannya dicampur dengan jenis-jenis pestisida lainnya,

(8) Mudah digunakan dan tidak begitu berbahaya terhadap yang menggunakannya,

(9) Tidak menimbulkan karat terhadap alat-alat penyemprotnya.

Soal-soal tes prediksi CPNS

CPNS ONLINE INDONESIA

Persiapankan diri Anda dengan latihan soal-soal dan pembahasannya untuk menghadapi Ujian Seleksi CPNS 2013-2014,sehingga Anda akan lebih percaya diri dalam mengikuti seleksi CPNS tahun ini. Kami sangat menyadari dan mengerti kebutuhan Anda, Informasi dan materi apa saja yang Anda butuhkan, serta latihan soal tes yang bagaimana seharusnyaAnda persiapkan. Semua kebutuhan Anda kini kami rangkum dalam ebook ini, Detail>>

cpnsonline728x90.gif

 

About these ads

3 Comments

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s